d'554 generation

the next generation moslem in the world

Pergerakan Mahasiswa Keperawatan


Pergerakan Mahasiswa Keperawatan
Oleh : Febri Yudha Utama
GERAKAN mahasiswa dalam sejarah perubahan peradaban dunia berkali-kali telah menorehkan tinta emasnya. Dimulai pada awal abad ke-12 dengan berdirinya Universitas Bologna di Paris. Saat itu lebih dikenal dengan semboyan ‘Gaudeamus Igtiur, Juvenes Dum Sumus” (kita bergembira, selagi masih muda). Pergerakan mahasiswa senantiasa memberikan pencerahan baru dalam setiap sikapnya tak terkecuali di Indonesia, salah satu elemen yang turut membawa negara ini merdeka ialah kaum muda (baca: mahasiswa).
Gerakan pemuda di Indonesia ini dimulai dengan Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Namun, istilah pemuda tersebut mengalami spesialisasi dengan sebutan mahasiswa, sosok yang memiliki kadar intelektual tinggi. Hal ini sah-sah saja karena untuk mengadakan perubahan bangsa tidak cukup dengan semangat ‘muda’ dituntut juga intelektual yang mumpuni dan yang menjadikan nilai lebih mahasiswa adalah gerakan mereka relatif bebas dari berbagai intrik politik. Sebut saja kedudukan, jabatan dan bahkan kekayaan
Peran mahasiswa pada angkatan 66, 74 dan 98 telah memberikan label The Agent of Social Control. Apalagi perjuangan mereka tidak lain adalah penyalur lidah masyarakat yang tertindas pada masa rezim tertentu. Kekuatan moral yang terbangun lebih disebabkan karena mahasiswa yang selalu bergerak secara aktif. Seperti dengan turun ke jalan demi berteriak menuntut keadilan dan pembelaan terhadap hak-hak wong cilik.
Namun seiring perjalanan waktu gerakan mahasiswa akhir-akhir ini seperti kehilangan gregetnya, terlebih aksi mahasiswa keperawatan yang mungkin jarang sekali terdengar aksinya. aksi-aksi penentangan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak memihak rakyat tidak lagi mampu mengundang simpati masyarakat. Bahkan rakyat cenderung beranggapan mahasiswa cuma bisa ngomong dan demo melulu.
Faktor-faktor eksternal di atas semakin kompleks dengan permasalahan internal yang dihadapi oleh hampir semua organisasi pergerakan tidak terkecuali pergerakan mahasiswa keperawatan yaitu sepinya kader baru. Kader sebagai SDM organisasi memegang peranan vital menyangkut mati hidupnya organisasi.
Hal ini menurut penulis lebih disebabkan kebijakan pendidikan di Indonesia yang mulai berkiblat pada kapitalisme dan liberalisme yang lebih menuntut kepada kehidupan kampus yang saklek akan kerja, kos, kampus, dan  kantin. Pembatasan masa studi dan biaya SPP yang membumbung tinggi adalah bukti konkretnya sehingga mahasiswa lebih ditekankan akan maasa study dan bagaimana memenuhi kewajiban mahasiswa. Sehingga pergerakan mahasiswa terutama mahasiswa keperawatan lebih tersendat, karena padatnya sistem
perkuliahan yang ada, hal inilah yang juga mempengaruhi kurang tersedianya SDM sebagai seorang aktifis.
Dalam  Hasil lokakarya Nasional Mahasiswa Keperawatan depok, 12-13 Mei 2007 
Kesepakatan yang dicapai:
Pergerakan mahasiswa keperawatan adalah gerakan moral dan intelektual.Orientasi gerakan ini adalah perbaikan segala aspek pendidikan keperawatan  dengan upaya yang tersistem dan berkesinambungan dengan pola yang dipakai meliputi input, proses, output dan evaluasi.
Sudah saatnya para aktivis pergerakan mengubah orientasi dengan menengedepankan nuansa gerakan intelektual (intellectual movement) selain gerakan masa dalam menuntaskan cita-cita yang diawali dengan ikrar sumpah pemuda.
Secara hakiki, gerakan mahasiswa adalah gerakan intelektual jauh dari kekerasan dan daya juang radikalisme. Mengingat, gerakan ini bermuara dari kalangan akademis kampus cenderung mengedapankan rasionalitas dalam menyikapi perbagai permasalahan. Dalam pandangan penulis ada tiga hal yang harus diperhatikan bagi aktifis-aktifis kampus.
Pertama, berasal atas kebiasaan diskusi. Gerakan mahasiswa harus memperbanyak ruang diskusi pra-pasca pergerakan. Diskusi akan membawa gerakan mahasiswa menjadi sebuah gerakan rasional dan terpercaya. Yang harus lebih dikaji adalah pada diskusi sebelum pergerakan sehingga elemen masyarakat secara umum akan lebih menghargai isu-isu diusung oleh gerakan mahasiswa yang rasional dan terpercaya.
Seperti dalam setiap aksi yang dilakukan mahasiswa, aksi mahaiswa harus mengkaji lebih detil apa, mengapa, akibat dan latar belakang kebijakan pemerintah harus ditentang. Dari kajian-kajian dalam bentuk diskusi lepas dengan mengundang para pakar dibidang-bidang berkaitan dengan agenda aksi, akan mampu melahirkan gagasan-gagasan dan analisa cemerlang. Sebagai contoh dalam kasus bank century mahasiswa diharapkan lebih matang akan apa yang akan di usung dalam setiap kasi sehingga dalam pra aksi atau setelah pergerakan tidak ada dampak burk yang kembali ke mahasiswa itu sendiri.
Sebagaimana kita ketahui zaman semakin maju sehingga dalam mengungkap sesuatu atau menghujam kritik harus berdasar, jelas, akurat dan terpercaya, tanpa itu sulit bagi gerakan mahasiswa dalam menyakinkan rakyat dalam menyalurkan aspirasi.
Kedua, berasal atas tradisi menulis. Aktivitas menulis merupakan salah satu gerbang menuju tradisi intelektual bagi gerakan mahasiswa. Sejak dulu sampai kini, tokoh dan intelektual bangsa Indonesia bernotabene mantan tokoh aktivis pemuda dan mahasiswa, banyak melemparkan gagasan atau ide-ide cemerlang, kritikan tajam dan membangun wacana dalam bentuk tulisan.
Hal ini bersinergi dengan peran mahasiswa Indonesia, meminjam istilah Michael Fremerey (1976) "Gerakan korektif", selain diorasikan melalui mimbar bebas dalam aksi demonstrasi juga dapat diwujudkan bagi tokoh-tokoh pergerakan mahasiswa dalam bentuk tulisan di Media Massa.
Ketiga, berasal atas tradisi membaca. Aktualisasi isu sangat penting bagi gerakan mahasiswa dalam bergerak. Begitu cepat pergeseran berita dan opini publik, memaksa kita untuk senantiasa membaca kalau tidak akan tertinggal akan isu-isu yang terupdate sehingga kembali kepada permasalahan tadi dalm setiap aksi kita, kita mampu menjadi motor penggerak pembaharu yang tetap peduli dan berpihak kepada masyarakat bawah karena sampai kapan pun mahasiswa dengan semangat mudanya akan tetap memegang peranan penting dalam mengontrol kebijakan-kebijakan publik agar tetap memikirkan akar rumput dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

                                                                                                Bahan bacaan diambil dari:
                                                                                                http://ogiezone.blogspot.com



0 komentar:

Poskan Komentar